10 kebiasaan buruk remaja era global

 Teknologi Seluler  berlebihan

Apapun sukanya yang jelas SMS ama telepon gak lepas dihari-harinya. Sepenggal kalimat itu rasanya cocok untuk dikaitkan dengan kehidupan remaja sekarang. Sejumlah layanan gratis dari berbabgai provider  telah mengubah tatanan komunikasi dan interaksi mereka. Demikian juga dengan kelayakan dan kegunaannya pun diukur  dengan kondisi hati. Simpulan sementaranya ada waktu lebih dari 15 menit kadang habis untuk sms atau teleponan dari 24 jam waktu yang ada serta ada pengeluaran 7,15%  dari pengeluaran skala individu untuk per minggunya. Artinya mendekati survie pengeluaran para perokok pada tahun 2010 yang tembus 10% pengeluaran rumah tangga disumbangkan oleh Konsumsi rokok. (survie tedi).

2.       Nonton

Kegiatan ini juga menyumbangkan waktu luang yang begitu lumayan untuk sinetron pendek dengan durasi 1 – 1,5 jam setiap hari. Akibatnya lupa buat PR, nyuci piring, ngepel, tak sadar ortu udah pulang kerja jadi korban sinetron donk. Muncul juga budaya klasik kok kehidupanku sama seperti dalam scenario sinetron. Unsure psikologis hendak meranut dalam pikiran terkadang dibawa sampai ruang kelas belajar.  Akan tetapi sisi positifnya juga begitu besar apabila mereka mampu untuk memposisikan diri dengan baik.

3.       Keluyuran

Biasanya hal ini dilakukan sepulang sekolah. Beralih alasan buat tugas sama teman. Nyatanya tugas mematai si doi pulang diantar sama siapa. Entar buat laporan via sms “doimu jalan sama itu”. Disamping itu juga ada berbagai tindakan yang tidak layak dilakukan oleh seorang pelajar dari segi keselamatan dan hemat energy (bagi keluyuran use BBM).

4.       Jejaring sosial

Habis waktu, habis biaya, habis mindset gara-gara mikiran perkembangan akun FB, Twiter, selalu kepikiran udah berapa pertemanan saya, apa status teman saya, dan lain-lain. Sampai-sampai nama menteri pendidikan tidak tahu siapa namanya (apalagi para ilmuan asli Indonesia yang sekarang di luar negeri). Mengerikan sungguh perilaku generasi sekarang ini. Akan tetapi jejaring komunikasinya sudah sampai ke Seoul bahkan ke lintas benua.

 Belanja pendidikan minim

Umumnya belanja pendidikan kalau sudah terpaksa karena kegagalan menyelesaikan tugas jadi beli buku. Bukan kesadaran untuk benar-benar tahu. Kebanyakan belanja kuliner atau sekunder needs. Apalagi merancang investasi keterampilan atau skill individu mendampingan pencapaian masa depan. Seperti kursus bahasa, Komputer, keterampilan sikap, dan lain-lain masih belum tumbuh dengan signifikan.

 Kurang paham kultur

Orang besar dimasa mendatang ialah orang yang mencintai dan membudayakan kebudayaan dimana ia dilahirkan. Kata   mutiara para tokoh dunia juga berkata demikian. Kenyataanya kita lupa selaku generasi muda akan kekayaaan dan keragaman budaya kita sendiri. Mengapa hal ini lentur dari kita. Sebab kita coba bandingkan dengan Negara kelas Korea Selatan. Dimana akses generasi mudanya selalu disandungkan dengan akar karya dalam negeri mulai dari akses internet hingga aliran musik sekalipun. Bukan berarti dari luar di larang masuk. Kita masih lemah untuk memahami karya bangsa dan keragaman kita yang penuh warna-warni.

Untuk nomor 7-10 akan diposting ulang

 

About these ads

Posted on March 24, 2012, in Pendidikan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: